Pulsa

Bitmap

 
MAU BISNIS/JUALAN PULSA HUBUNGI BASORI AGEN PULSA DI 085852882510 Bitmap

 
        Bitmap Bitmap Bitmap

 
         
    BASORI AGEN PULSA ALL OPERATOR                  
    KALIBARU MANIS (KONGSEN)   24 Jam          
                                       
  AS HARGA   ESIA HARGA   HEPI HARGA   SIMPATI HARGA   SMS CENTER            
  A5 5250   E1 1200   H10 1050   S5 5250   AS- 085234494774        
  A10 10250   E5 5200   H20 19900   S10 10250   IM3- 085755257333        
  A20 20100   E10 10150   H25 24850   S20 20100     085730833367        
  A25 25100   E11 11100   H50 49500   S25 25100     085745990599        
  A50 49100   E20 20   H100 98700   S50 49100   XL – 087852173777        
  A100 97100   E25 25   IM3   S100 97100     087853740600        
  AXIS   E50 49600   i2 2200   SMART   DEPOSIT MINIMAL 100 RB      
  AX1 1200   E100 98850   i5 5100   SM5 5100   Cara transaksi          
  AX5 4900   FLEXI   i10 1050   SM10 9950   ketik kode vocer.nohp.pin      
  AX10 9700   F5 4950   i25 24650   SM20 19760   contoh S10.08133xxxx.1234      
  AX20 19200   F10 9700   i50 48900   SM50 49100   Transaksi multi          
  AX25 24   F20 19200   i100 97600   SM100 97850   ketik kode focer1.nohp1.kode focer2.no hp2 dst.pin
  AX50 47850   F50 47850   MENTARI   STARONE   cnth s10.08133xxxx.a5.08133.1234    
  AX100 95600   F100 95450   M2 2200   ST2 2200   cek saldo          
  XL   FREN   M5 5100   ST5 5100   ketik S.pin          
  B1 1250   FR5 550   M10 1050   ST10 1050   contoh S.1234          
  B5 5400   FR10 1050   M25 24650   ST25 24650   Paralel no HP          
  B10 10300   FR20 19900   M50 48900   ST50 48900   ketik paralel.nohp.pin        
  B25 24950   FR25 24850   M100 97600   ST100 97600   cnth: paralel.08133xxxx.1234      
  B50 49600   FR50 49500   THREEE   CERIA   Ganti pin          
  B100 98850   FR100 96700   T1 1200   CR5 4900   ketik : GP.pin baru.pin lama      
  XL XTRA         T5 5100   CR10 9500   cnth : gp.1234.4567        
  BX10 10300         T10 9900   CR20 18850                
  BX50 49600         T20 19500   CR50 46600   ketik info.isi pesan.pin        
  BX100 98850         T30 29100   CR100 93100   cnth: info.trx no 08133xxxx blm masuk    
              T50 48600   DEPOSIT BRI                 
              T100 96600    A.BUSHAIRI BRI 0211.01.009418.50.0 (Cab Surabaya Pahlawan)  
                    Indosat. 085852882510.    XL  081803189822      
                                       

Tip Memelihara Burung Puyuh

1. SEJARAH SINGKAT

Puyuh merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang, ukuran tubuh relatif kecil, berkaki pendek dan dapat diadu. Burung puyuh disebut juga Gemak (Bhs. Jawa-Indonesia). Bahasa asingnya disebut “Quail”, merupakan bangsa burung (liar) yang pertama kali diternakan di Amerika Serikat, tahun 1870. Dan terus dikembangkan ke penjuru dunia. Sedangkan di Indonesia puyuh mulai dikenal, dan diternak semenjak akhir tahun 1979. Kini mulai bermunculan di kandangkandang ternak yang ada di Indonesia.

 

2. SENTRA PETERNAKAN

Sentra Peternakan burung puyuh banyak terdapat di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah

 

3. J E N I S

kelas    : Aves (Bangsa Burung)

Ordo                : Galiformes

Sub Ordo         : Phasianoidae

Famili               : Phasianidae

Sub Famili        : Phasianinae

Genus               : Coturnix

Species             : Coturnix-coturnix Japonica

 

4. MANFAAT

1)    Telur dan dagingnya mempunyai nilai gizi dan rasa yang lezat

2)  Bulunya sebagai bahan aneka kerajinan atau perabot rumah tangga lainnya

3)  Kotorannya sebagai pupuk kandang ataupun kompos yang baik dapat digunakan sebagai pupuk tanaman

 

5. PERSYARATAN LOKASI

1)    Lokasi jauh dari keramaian dan pemukiman penduduk

2)  Lokasi mempunyai strategi transportasi, terutama jalur sapronak dan jalur-jalur pemasaran

3)  Lokasi terpilih bebas dari wabah penyakit

4)  Bukan merupakan daerah sering banjir

5)  Merupakan daerah yang selalu mendapatkan sirkulasi udara yang baik.

 

6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

Sebelum usaha beternak dimulai, seorang peternak wajib memahami 3 (tiga) unsur produksi yaitu: manajemen (pengelolaan usaha peternakan), breeding (pembibitan) dan feeding (makanan ternak/pakan)

6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan

  1. Perkandangan
    Dalam sistem perkandangan yang perlu diperhatikan adalah temperatur kandang yang ideal atau normal berkisar 20-25 derajat C; kelembaban kandang berkisar 30-80%; penerangan kandang pada siang hari cukup 25- 40 watt, sedangkan malam hari 40-60 watt (hal ini berlaku untuk cuaca mendung/musim hujan). Tata letak kandang sebaiknya diatur agar sinar matahari pagi dapat masuk kedalam kandang.

    Model kandang puyuh ada 2 (dua) macam yang biasa diterapkan yaitu sistem litter (lantai sekam) dan sistem sangkar (batere). Ukuran kandang untuk 1 m2 dapat diisi 90-100 ekor anak puyuh, selanjuntnya menjadi 60 ekor untuk umur 10 hari sampai lepas masa anakan. Terakhir menjadi 40 ekor/m2 sampai masa bertelur.

    Adapun kandang yang biasa digunakan dalam budidaya burung puyuh adalah:

a.  Kandang untuk induk pembibitan
Kandang ini berpegaruh langsung terhadap produktifitas dan kemampuan menghasilkan telur yang berkualitas. Besar atau ukuran kandang yang akan digunakan harus sesuai dengan jumlah puyuh yang akan dipelihara. Idealnya satu ekor puyuh dewasamembutuhkan luas kandang 200 m2.

b. Kandang untuk induk petelur
Kandang ini berfungsi sebagai kandang untuk induk pembibit. Kandang ini mempunyai bentuk, ukuran, dan keperluan peralatan yang sama. Kepadatan kandang lebih besar tetapi bisa juga sama.

c.  Kandang untuk anak puyuh/umur stater(kandang indukan)
Kandang ini merupakan kandang bagi anak puyuh pada umur starter, yaitu mulai umur satu hari sampai dengan dua sampai tiga minggu. Kandang ini berfungsi untuk menjaga agar anak puyuh yang masih memerlukan pemanasan itu tetap terlindung dan mendapat panas yang sesuai dengan kebutuhan. Kandang ini perlu dilengkapi alat pemanas.
Biasanya ukuran yang sering digunakan adalah lebar 100 cm, panjang 100 cm, tinggi 40 cm, dan tinggi kaki 50 cm. (cukup memuat 90-100 ekor anak puyuh).

d. Kandang untuk puyuh umur grower (3-6 minggu) dan layer (lebih dari 6 minggu)
Bentuk, ukuran maupun peralatannya sama dengan kandang untuk induk petelur. Alas kandang biasanya berupa kawat ram.

  1. Peralatan
    Perlengkapan kandang berupa tempat makan, tempat minum, tempat bertelur dan tempat obat-obatan.

 

6.2. Peyiapan Bibit
Yang perlu diperhatikan oleh peternak sebelum memulai usahanya, adalah memahami 3 (tiga) unsur produksi usaha perternakan yaitu bibit/pembibitan, pakan (ransum) dan pengelolaan usaha peternakan.

Pemilihan bibit burung puyuh disesuaikan dengan tujuan pemeliharaan, ada 3 (tiga) macam tujuan pemeliharaan burung puyuh, yaitu:

a.  Untuk produksi telur konsumsi, dipilih bibit puyuh jenis ketam betina yang sehat atau bebas dari kerier penyakit.

b. Untuk produksi daging puyuh, dipilih bibit puyuh jantan dan puyuh petelur afkiran.

c.  Untuk pembibitan atau produksi telur tetas, dipilih bibit puyuh betina yang baik produksi telurnya dan puyuh jantan yang sehat yang siap membuahi puyuh betina agar dapat menjamin telur tetas yang baik.

 

6.3. Pemeliharaan

  1. Sanitasi dan Tindakan Preventif
    Untuk menjaga timbulnya penyakit pada pemeliharaan puyuh kebersihan lingkungan kandang dan vaksinasi terhadap puyuh perlu dilakukan sedini mungkin.
  2. Pengontrolan Penyakit
    Pengontrolan penyakit dilakukan setiap saat dan apabila ada tanda-tanda yang kurang sehat terhadap puyuh harus segera dilakukan pengobatan sesuai dengan petunjuk dokter hewan atau dinas peternakan setempat atau petunjuk dari Poultry Shoup.
  3. Pemberian Pakan
    Ransum (pakan) yang dapat diberikan untuk puyuh terdiri dari beberapa bentuk, yaitu: bentuk pallet, remah-remah dan tepung. Karena puyuh yang suka usil memtuk temannya akan mempunyai kesibukan dengan mematuk-matuk pakannya. Pemberian ransum puyuh anakan diberikan 2 (dua) kali sehari pagi dan siang. Sedangkan puyuh remaja/dewasa diberikan ransum hanya satu kali sehari yaitu di pagi hari. Untuk pemberian minum pada anak puyuh pada bibitan terus-menerus.
  1. Pemberian Vaksinasi dan Obat
    Pada umur 4-7 hari puyuh di vaksinasi dengan dosis separo dari dosis untuk ayam. Vaksin dapat diberikan melalui tetes mata (intra okuler) atau air minum (peroral). Pemberian obat segera dilakukan apabila puyuh terlihat gejala-gejala sakit dengan meminta bantuan petunjuk dari PPL setempat ataupun dari toko peternakan (Poultry Shoup), yang ada di dekat Anda beternak puyuh.

 

 

7. HAMA DAN PENYAKIT

7.1. Penyakit

1. Radang usus (Quail enteritis)
Penyebab: bakteri anerobik yang membentuk spora dan menyerang usus, sehingga timbul peradangan pada usus.
Gejala: puyuh tampak lesu, mata tertutup, bulu kelihatan kusam, kotoran berk yang membentuk spora dan menyerang usus, sehingga timbul peradangan pada usus.
Gejala: puyuh tampak lesu, mata tertutup, bulu kelihatan kusam, kotoran berair dan mengandung asam urat.
Pengendalian: memperbaiki tata laksana pemeliharaan, serta memisashkan burung puyuh yang sehat dari yang telah terinfeksi.

2. Tetelo (NCD/New Casstle Diseae)
Gejala: puyuh sulit bernafas, batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok, lesu, mata ngantuk, sayap terkulasi, kadang berdarah, tinja encer kehijauan yang spesifik adanya gejala “tortikolis”yaitu kepala memutar-mutar tidak menentu dan lumpuh.
Pengendalian: (1) menjaga kebersihan lingkungan dan peralatan yang tercemar virus, binatang vektor penyakit tetelo, ayam yang mati segera dibakar/dibuang; (2) pisahkan ayam yang sakit, mencegah tamu masuk areal peternakan tanpa baju yang mensucihamakan/ steril serta melakukan vaksinasi NCD. Sampai sekarang belum ada obatnya.

3. Berak putih (Pullorum)
Penyebab: Kuman Salmonella pullorum dan merupakan penyakit menular.
Gejala: kotoran berwarna putih, nafsu makan hilang, sesak nafas, bulu-bulu mengerut dan sayap lemah menggantung.
Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit tetelo.

4. Berak darah (Coccidiosis)
Gejala: tinja berdarah dan mencret, nafsu makan kurang, sayap terkulasi, bulu kusam menggigil kedinginan.
Pengendalian: (1) menjaga kebersihan lingkungaan, menjaga litter tetap kering; (2) dengan Tetra Chloine Capsule diberikan melalui mulut; Noxal, Trisula Zuco tablet dilarutkan dalam air minum atau sulfaqui moxaline, amprolium, cxaldayocox

5. Cacar Unggas (Fowl Pox)
Penyebab: Poxvirus, menyerang bangsa unggas dari semua umur dan jenis kelamin.
Gejala: imbulnya keropeng-keropeng pada kulit yang tidak berbulu, seperti pial, kaki, mulut dan farink yang apabila dilepaskan akan
mengeluarkan darah.
Pengendalian: vaksin dipteria dan mengisolasi kandang atau puyuh yang terinfksi.

6. Quail Bronchitis
Penyebab: Quail bronchitis virus (adenovirus) yang bersifat sangat menular.
Gejala: puyuh kelihatan lesu, bulu kusam, gemetar, sulit bernafas, batuk dan bersi, mata dan hidung kadang-kadang mengeluarkan lendir serta kadangkala kepala dan leher agak terpuntir.
Pengendalian: pemberian pakan yang bergizi dengan sanitasi yang memadai.

7. Aspergillosis
Penyebab: cendawan Aspergillus fumigatus.
Gejala: Puyuh mengalami gangguan pernafasan, mata terbentuk lapisan putih menyerupai keju, mengantuk, nafsu makan berkurang.
Pengendalian: memperbaiki sanitasi kandang dan lingkungan sekitarnya.

8. Cacingan
Penyebab: sanitasi yang buruk.
Gejala: puyuh tampak kurus, lesu dan lemah.
Pengendalian: menjaga kebersihan kandang dan pemberian pakan yang terjaga kebersihannya.

 

 

8. P A N E N

8.1. Hasil Utama
Pada usaha pemeliharaan puyuh petelur, yang menjadi hasil utamanya adalah produksi telurnya yang dipanen setiap hari selama masa produksi berlangsung.

8.2. Hasil Tambahan
Sedangkan yang merupakan hasil tambahan antara lain berupa daging afkiran, tinja dan bulu puyuh.

 

9. PASCA PANEN

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN

10.1. Analisis Usaha Budidaya

1) Investasi

a.  kandang ukuran 9 x 0,6 x 1,9 m
(1 jalur + tempat makan dan minum)
Rp. 2.320.000,-

b.  kandang besar                                                            Rp. 1.450.000,-
2) Biaya pemeliharaan (untuk umur 0-2 bulan)

a.  ay Old Quail (DOQ) x Rp 798 (Harga DOQ)             Rp. 1.596.000,-

b.  Obat (Vitamin + Vaksin)                                             Rp. 145.000,-

c.         Pakan (selama 60 hari)
Jumlah biaya produksi
Keadaan puyuh:

–  Jumlah anak 2000 ekor (jantan dan betina)

–  Resiko mati 5%, sisa 1900

–  Resiko kelamin 15% jantan, 85% betina (285 jantan, 1615 betina)

–  Setelah 2 bulan harga puyuh bibit Rp 3.625,- betina dan Rp 725 jantan

–  Penjualan puyuh bibit umur 2 bulan

Minus   Rp. 2.981.200,-
Rp. 4.722.200,-

 

 

 

 

Rp. 4.408.000,-

Rp. -314.200,-
3) Biaya pemeliharaan (0-4 bulan)

–   200 DOQ x Rp 798,-                                                Rp. 159.600,-

–   Obat (vitamin dan Vaksinasi)                                      Rp. 290.000,-

–   Pakan (sampai dengan umur 3 minggu)                       Rp. 2.459.925,-

Pakan (s/d minggu ke 4) betina 1615 ekor dan 71 ekor jantan (25% jantan layak bibit)        Rp. 5.264.051,-

Jumlah biaya produksi                                                Rp. 8.173.576,-
Keadaan puyuh:

–   Mulai umur 1,5 bulan puyuh bertelur setiap hari rata-rata 85%, jumlah telur 1373 butir

–   Hasil telur 75 hari x 1373 x Rp 75,-                           Rp. 7.723.125,-

–   Puyuh betina bibit 1615 ekor @ Rp 3.625,-               Rp. 5.854.375,-

–   Puyuh jantan bibit 75 ekor @ Rp 798,-                      Rp. 59.850,-

–   Puyuh jantan afkiran 214 ekor @ Rp 725,-                Rp. 155.150,-

 

4) Keuntungan dari hasil penjualan Rp. 5.618.924,-


5) Biaya pemeliharaan (sampai umur 8 bulan)

a.  Biaya untuk umur 4-8 bulan                                        Rp. 1.625.137,-


6) Pendapatan

a.  Hasil telur (0,5 bulan) 195 x 1373 x Rp 75,-              Rp. 20.080.125,-

b.  Hasil puyuh afkir 1615 ekor @ Rp 798,-                   Rp. 1.288.770,-

c.  Hasil jantan afkir 71 ekor @ Rp 725,-                       Rp. 51.475,-

d.  Hasil jantan afkir (2 bln) 214 ekor @ Rp 725,-          Rp. 155.150,-

 

7) Keuntungan beternak puyuh petelur dan afkiran jual Rp. 10.950.113,-
Jadi peternak lebih banyak menjumlah keuntungan bila beternak puyuh petelur, baru kemudian puyuh afkirannya di jual daripada menjual puyuh bibit. Analisa usaha dihitung berdasarkan harga-harga yang berlaku pada tahun 1999.

10.2. Gambaran Peluang Agribisnis

 

11. DAFTAR PUSTAKA

1.   Beternak burung puyuh, 1981. Nugroho, Drh. Mayen 1 bk. Dosen umum Ternak Unggas Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, Universitas Udayana.

2.   Puyuh, Tatalaksana Budidaya secara komersil, 1992. Elly Listyowati, Ir. Kinanti Rospitasari, Penebar Swadaya, Jakarta.

3.   Memelihara burung puyuh, 1985. Muhammad Rasyaf, Ir. Penerbit Kanisius (Anggota KAPPI), Yogyakarta.

4.   Beternak burung puyuh dan Pemeliharaan secara komersil, tahun 1985. Wahyuning Dyah Evitadewi dkk. Penerbit Aneka Ilmu Semarang

 

12. KONTAK HUBUNGAN

1.   Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829

2.   Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8, Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952, Situs Web: http://www.ristek.go.id

 

 

Sumber :
Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas

 

 

 

 

 

 

lg lg kopi

I.                Pendahuluan 

Tanaman kopi merupakan komoditi ekspor yang cukup menggembirakan karena mempunyai nilai ekonomis yang relative tinggi di pasaran dunia, di samping itu tanaman kopi ini adalah salah satu komoditas unggulan yang dikembangkan di Jawa Barat.

Tanaman kopi jenis arabika sat ini mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi dibandingkan dengan kopi Robusta yang mana pada tahun 1990 harga kopi Arabika 1,85 U$D/Kg, sedangkan kopi Robusta 0,83 U$D/Kg.

Faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan harga kopi Robusta di pasaran dunia antara lain :
Kelangkaan pasok jenis kopi Arabika.
Kopi robusta mengalami over supply.
Penggunaan kopi Robusta semakin tinggi.
Situasi pasaran dunia untuk jenis Robusta menurun sehingga ICO melakukan pemotongan kuota sebanyak 2 kali lipat dalam setahun.

Dari hal tersebut perlu adanya usaha pemilihan jenis kopi yang mempunyai nilai ekonomis dan rasa yang relatif baik serta yang tahan terhadap penyakit karat daun.  

Usaha untuk merebut peluang pasar kopi antara lain dengan Pengembangan tanaman kopi Arabika melalui kegiatan peremajaan, peluasan dan rehabilitasi tanaman kopi dari kopi Robusta menjadi kopi Arabika.

II.            Pengertian

1.                   Peremajaan

Peremajaan adalah usaha menggantikan tanaman yang secara ekonomis tidak menguntungkan lagi karena produktivitasnya rendah sehingga perlu diganti dengan yang baru dan dapat menghasilkan produktivitas yang tinggi.

2.                 Perluasan

Kegiatan perluasan adalah menanam tanaman kopi di areal baru yang lingkungannya sesuai dengan persyaratan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman kopi.

3.                 Rehabilitasi

Rehabilitasi kebun adalah kegiatan untuk memulihkan kondisi kebun ke keadaan yang lebih baik, sehingga produktivitasnya meningkat. Rehabilitasi tanaman ditujukan pada populasi tanaman yang telah berkurang karena kesalahan kultur teknis, serangan hama dan penyakit serta kekeringan yang akan akan mengakibatkan produktivitas tanaman per hektar rendah atau tidak menguntungkan untuk diusahakan.

III.       Budidaya Tanaman Kopi Arabika

Pada dasarnya untuk usahatani dan budidaya kopi arabika melalui kegiatan Perluasan, Peremajaan dan Rehabilitasi adalah sama seperti pada kegiatan penanaman baru, yaitu :

1.    Syarat Tumbuh

·        Lokasi

ü      Letaknyas terisolir dari pertanaman kopi varietas lain ± 100 meter.

ü      Lahan bebas hama dan penyakit

ü      Mudah pengawasan

·        Tanah

ü      PH tanah              : 5,5 – 6,5

ü      Top Soil              : Minimal 2 %.

ü      Strukrur tanah    : Subur, gembur ke dalaman relative > 100 cm.

·        Iklim

ü      Tinggi tempat      : 800 – 2000 m dpl

ü      Suhu                   : 15º C – 25º C.

ü      Curah hujan         : 1.750 – 3000 mm/thn

                                           Bulan kering 3 bulan

2.    Bahan Tanaman

Untuk perbanyakan tanaman di lapangan diperlukan Bibit Siap Salur dengan kriteria sebagai berikut :

ü      Sumber benih                  : Harus berasal dari kebun induk atau

                                              perusahaan yang telah ditunjuk.

ü      Umur bibit                      : 8 -12 bulan

ü      Tinggi                             : 20 -40 cm

ü      Jumlah minimal daun tua   : 5 – 7

ü      Jumlah cabang primer      : 1

ü      Diameter batang              : 5 – 6 cm

Kebutuhan bibit/ha

·        Jarak tanam                    : 1,25 m x 1,25 m

·        Populasi                           : 6.400 tanaman

Untuk sulaman                      : 25 %

3.    Penanaman

a.      Jarak Tanam

Sistem jarak tanam untuk kopi arabika antara lain :

ü      Segi empat        : 2,5 x 2,5 m

ü      Pagar                : 1,5 x 1,5 m

ü      Pagar ganda       : 1,5 x 1,5 x 3 cm

b.    Lobang Tanam

ü      Harus dibuat 3 bulan sebelum tanam.

ü        Ukuran lubang 50 x 50 x 50 cm, 60 x 60 x 60 cm, 75 x 75 x 75 cm atau 1 x 1 x 1 m untuk tanah yang berat.

ü      Tanah galian diletakan di kiri dan kanan lubang.

ü      Lubang dibiarkan terbuka selama 3 bulan.

ü      2 -4 minggu sebelum tanam, tanah galian yang telah dicampur dengan pupuk kandang yang masak sebanyak 15/20  kg/lubang, dimasukkan kembali ke dalam lubang.

ü      Tanah urugan jangan dipadatkan.
Penanaman

ü      Penanaman dilakukan pada musim hujan

ü      Leher akar bibit ditanam rata dengan permukaan tanah.

4.     Pemeliharaan

a.      Penyiangan

·        Membersihkan gulma di sekitar tanaman kopi.

·        Penyiangan dapat dilakukan bersama-sama dengan penggemburan tanah

·        Untuk tanaman dewasa dilakukan 2 x setahun

b.     Pohon Pelindung

·        Penanaman pohon pelindung

ü      Tanaman kopi sangat memerlukan naungan untuk menjaga agar tanaman kopi jangan berbuah terlalu banyak sehingga kekuatan tanaman cepat habis.

ü      Pohon pelindung ditanam 1 – 2 tahun sebelum penaman kopi, atau memanfaatkan tanaman pelindung yang ada.

ü      Jenis tanaman untuk pohon pelindung antara lain lamtoro, dadap, sengon, dll.

·        Pengaturan pohon pelindung

ü      Tinggi pencabangan pohon pelindung diusahakan 2 x tinggi pohon kopi

ü      Pemangkasan pohon pelindung dilakukan pada musim hujan.

ü      Apabila tanaman kopi dan pohon pelindung telah cukup besar, pohon pelindung bisa diperpanjang menjadi 1 : 2 atau 1 : 4.

c.      Pemangkasan Kopi

·        Pangkasan Bentuk

ü      Tinggi pangkasan 1,5 – 1,8 m

ü      Cabang primer teratas harus dipotong tinggi 1 ruas

ü      Pemangkasan dilakukan di akhir musim hujan

·        Pangkasan Produksi

ü      Pembuangan tunas wiwilan (tunas air) yang tumbuh ke atas.

ü      Pembuangan cabang cacing dan cabang balik yang tidak menghasilkan buah.

ü      Pembuanagn cabang-cabang yang terserang hama penyakit.

ü      Pemangkasan dilakukan 3 – 4 kali setahun dan dikerjakan pada awal musim hujan.

·        Pangkasan Rejupinasi (pemudaan)

ü      Ditujukan pada tanaman yang sudah tua dan produksinya sudah turun menurun

ü      Pada awal musim hujan, batang dipotong miring setinggio 40 – 50 cm dari leher akar. Bekas potongan dioles dengan aspal.

ü      Tanah disekeliling tanaman dicangkul dan dipupuk

ü      Dari beberapa tunas yang tumbuh pelihara 1 -2 tunas yang pertumbuhannya baik dan lurus ke atas.

ü      Setelah cukup besar, disambung dengan jenis yang baik dan produksinya tinggi.

5.     Pemupukan

a.      Dosis pemupukan kopi per pohon adalah :

·  Umur 1 tahun            : 50 gr Urea, 40 gr TSP, dan 40 gr KCL.

·  Umur 2 tahun            : 100 gr Urea, 80 gr TSP, dan 80  gr KCL.

·  Umur 3 tahun            : 150 gr Urea, 100 gr TSP, dan 100 gr KCL.

·  Umur 4 tahun            : 200 gr Urea, 100 gr TSP, dan 100 gr KCL.

·  Umur 5-10 tahun       : 300 gr Urea, 150 gr TSP, dan 240 gr KCL.

·  Umur 10 thn keatas   : 500 gr Urea, 200 gr TSP, dan 320 gr KCL.

b.     Pupuk diberikan dua kali setahun yaitu awal dan akhir musim hujan masing-masing setengah dosis.

c.      Cara pemupukan dengan membuat parit melingkar pohon sedalam ± 10 cm, dengan jarak proyek tajuk pohon (± 1 m)

6.    Pengendalian Hama Penyakit.

a.      Hama

·        Hama Bubuk Buah

ü      Penyebab adalah sejenis kumbang kecil

ü      Menyerang buah muda dan tua

ü      Pengendalian dengan mekanis yaitu dengan mengumpulkan buah-buah yang terserang, secara kultur teknis dengan penjarangan naungan dan tanaman sedangkan secara chemis dengan Insektisida Dimecron 50 SCW, Tamaron, Argothion, Lebaycide, Sevin 85 S dengan dosis 2 cc / liter air.

·        Bubuk Cabang (Xyloborus moliberus)

ü            Menyerang/menggerek cabang dan ranting kecil 3 – 7 dari pucuk kopi.

ü            Daun menjadi kuning dan rontok kemudian cabang akan mongering.

ü            Pengendalian sama seperti pada hama bubuk buah.

b.     Penyakit

Penyakit Karat Daun

ü             Penyebab adalah sejenis Cendawan.

ü             Tanda serangan ada bercak-bercak merah kekuningan pada bagian bawah daun, sedangkan di permukaan daun ada bercak kuning. Kemudian daun gugur, ujung cabang muda kering dan buah kopi menjadi hitam kering dan kualitas tidak baik selanjutnya tanaman akan mati.

ü             Pengendalian secara kultur teknis dengan menanam jenis kopi arabika yang tahan sepertio S 333, S 288 dan S 795 serta menjaga agar kondisi FungisidaDithane M-45 dengan dosis 2 gr/liter air.

c.      Panen

·        Kopi Arabika mulai berbuah pada umur 4 tahun.

·        Petik buah yang betul masak dengan warna merah, tua agar menghasilkan kopi yang berkualitas.

·        Pada waktu panen (pemetikan) agar berhati-hati supaya tidak ada bagian pohon/cabang/ranting) yang rusak.

Kopi lg

 

Tanaman Kopi merupakan komoditi ekspor yang cukup menggembirakan karena mempunyai nilai ekonomis yang relatif tinggi dipasaran dunia, disamping itu tanaman kopi ini adalah salah satu komoditas unggulan.

 Tips:
1 Syarat Tumbuh
  – Letaknya terisolir dari pertanaman kopi varietas lain lebih kurang 100 meter.
  – Lahan Bebas hama dan penyakit
  – Mudah Pengawasan
2 Bahan Tanaman
  Untuk memperbanyak tanaman di lapangan diperlukan bibit siap salur
  dengan kriteria sebagai berikut:
  – Sumber benih harus berasal dari kebun induk atau perusahaan
   yang telah ditunjuk
  – Umur bibit 8-12 bulan
  – Tinggi 20-40 cm
  – Jumlah minimal daun tua 5-7
  – Jumlah cabang primer 1
  – Diameter batang 5-6 cm
3 Penanaman
  – Lobang tanam harus dibuat 3 bulan sebelum tanam
  – ukuran lubang 50x50x50 cm, 60x60x60 cm, 75x75x75 cm atau
   1×1 m untuk tanah yang berat
  – Tanah galian diletakkan di kiri dan kanan lubang
  – Lubang dibiarkan terbuka selama 3 bulan
  – 2-4 minggu sebelum tanam, tanah galian yang telah dicampur
   dengan pupuk kandang yang masak sebanyak 15/20 kg/lubang,
   dimasukkan kembali kedalam lubang.
  – Tanah urugan jangan dipadatkan
  – penanaman dilakukan pada musim hujan
  – leher akar bibit ditanam rata dengan permukaan tanah
4 Pemeliharaan
  – penyiangan dapat dilakukan bersama-sama dengan penggemburan
   tanah.
  – untuk tanaman dewasa dilakukan 2x setahun
  – Tanaman kopi sangat memerlukan naungan untuk menjaga agar
   tanaman kopi jangan berubah terlalu banyak sehingga kekuatan
   tanaman cepat habis.
  – pohon pelindung ditanam 1-2 tahun sebelum penanaman kopi,
   atau memanfaatkan tanaman pelindung yang ada
  – jenis tanaman untuk pohon pelindung antara lain lamtoro,
   dadap, sengon.
5 Pemupukan
  a Dosis pemupukan kopi perpohon adalah:
   . Umur 1 Tahun : 50 gr urea, 40 gr tsp, dan 40 gr kcl
   . Umur 2 Tahun : 100 gr urea, 50 gr tsp, dan 80 gr kcl
   . Umur 3 Tahun : 150 gr urea, 100 gr tsp, dan 100 gr kcl
   . Umur 4 Tahun : 200 gr urea, 100 gr tsp, dan 100 gr kcl
   . Umur 5-10 Tahun : 300 gr urea, 150 gr tsp, dan 240 gr kcl
   . umur 10 th keatas : 500 gr urea, 200 gr tsp, dan 320 gr kcl
  b Pupuk diberikan 2 x setahun yaitu awal dan akhir musim hujan
   masing-masing setengah dosis
  c cara pemupukan dengan membuat parit melingkar pohon sedalam
   lebih kurang 10 cm, dengan jarak proyek tajuk pohon
   (lebih kurang 1 m)
6 Pengendalian Hama
  a Hama
   – Hama bubuk buah
   – penyebabnya adalah sejenis kumbang kecil yang menyerang
   buah muda dan tua
   – pengendalian hama dengan mekanis yaitu dengan mengumpulkan
   buah-buah yang terserang, secara kultur teknis dengan penja
   rangan naungan dan tanaman sedangkan secara chemis dengan
   insektisida dimecorn 50 scw, tamaron, argothion, lebaycide, sevin
   85 s dengan dosis 2 cc/liter air
   – bubuk cabang (Xyloborus moliberus)
   – menyerang/menggerek cabang dan ranting kecil 3 – 7 dari
   pucuk kopi. daun menjadi kuning dan rontok kemudian cabang
   akan mengering.
   – pengendalian sama seperti pada hama bubuk buah.
  b penyakit
   – penyakit karat daun
   – penyebab adalah sejenis cendawan
   – tanda serangan ada bercak-bercak merah kekuningan
   pada bagian bawah daun, sedangkan dipermukaan daun ada
   bercak kuning, kemudian daun gugur, ujung cabang muda kering
   dan buah kopi menjadi hitam kering dan kualitas tidak baik
   selanjutnya tanaman akan mati
   – pengendalian secara kultur teknis dengan penanaman jenis kopi
   arabika yang tanah sepert s 333, s 288, dan s 795 serta menjaga
   akar kondisi fungsida dithane m-45 dengan dosis 2 gr/liter air
7 panen
   – kopi arabika mulai berbuah pada umur 4 tahun
   – petik buah yang betul marak dengan warna merah, tua agar
   menghasilkan kopi yang berkualitas.
   -pada waktu panen (pemetikan) agar berhati-hati agar tidak ada
   bagian pohon/cabang/ranting yang rusak

Kopi

BUDIDAYA KOPI

I. PENDAHULUAN
Tanaman Kopi merupakan tanaman yang sangat familiar di lahan pekarangan penduduk pedesaan di Indonesia. Jika potensi dahsyat ini bisa kita manfaatkan tidaklah sulit untuk menjadikan komoditi ini menjadi andalan di sektor perkebunan. Hanya butuh sedikit sentuhan teknis budidaya yang
tepat, niscaya harapan kita optimis menjadi kenyataan.

PT. Natural Nusantara berusaha mewujudkan harapan bersama tersebut dengan paket panduan teknis dan produk tanpa melupakan Aspek K-3 yaitu kuantitas, kualitas dan kelestarian yang kini menjadi salah satu syarat persaingan di era globalisasi.

II. PERSIAPAN LAHAN
– Untuk tanah pegunungan/miring buat teras.
– Kurangi/tambah pohon pelindung yang cepat tumbuh kira-kira 1:4 hingga 1: 8 dari jumlah tanaman kopi.
– Siapkan pupuk kandang matang sebanyak 25-50 kg, sebarkan Natural GLIO, diamkan satu minggu dan buat lobang tanam 60 x 60, atau 75 x 75 cm dengan jarak tanam 2,5×2,5 hingga 2,75 x 2,75 m minimal 2 bulan sebelum tanam

III. PEMBIBITAN
– Siapkan biji yang berkualitas dari pohon yang telah diketahui produksinya biasanya dari penangkar benih terpercaya.
– Buat kotak atau bumbunan tanah untuk persemaian dengan tebal lapisan pasir sekitar 5 cm.
– Buat pelindung dengan pelepah atau paranet dengan pengurangan bertahap jika bibit telah tumbuh
– Siram bibitan dengan rutin dengan melihat kebasahan tanah
– Bibit akan berkecambah kurang lebih 1 bulan, pilih bibit yang sehat dan lakukan pemindahan ke polibag dengan hati2 agar akar tidak putus pada umur bibit 2 -3 bulan sejak awal pembibitan
– Tambahkan pupuk NPK sebagai pupuk dasar (lihat tabel) hingga umur 12 bulan
– Siramkan SUPERNASA dosis 1 sendok makan per 10 liter air, ambil 250 ml per pohon dari larutan tersebut
– Setelah bibit umur 4 bulan semprotkan 2 tutup POC NASA per tangki sebulan sekali hingga umur bibit 7-9 bulan dan siap tanam

Tabel Dosis Pupuk Untuk Bibit Kopi
Umur (bln) gr/m2   Urea         SP-36               KCl
   3                                   10              5                         5
   5                                   20             10                      10
   7                                  30              15                        15
   9                                  40              20                      20
  12                                 50             25                        25
Catatan : Jenis dan dosis pupuk bisa sesuai dengan anjuran dinas pertanian setempat. Perhatikan kelembapan tanah agar bibit tidak terkena serangan karat daun.

IV. PENANAMAN
– Masukkan pupuk kandang dengan campuran tanah bagian atas saat penanaman bibit.
– Usahakan saat tanam sudah memasuki musim hujan.
– Lakukan penyiraman tanah setelah tanam
– Hindarkan resiko kematian tanaman baru dari gangguan ternak.

V. PENYULAMAN
– Lakukan penyulaman segera jika tanaman mati atau gejala pertumbuhannya tidak normal.
– Penyulaman dilakukan awal musim hujan

VI. PENYIRAMAN
Lakukan penyiraman jika tanah kering atau musim kemarau

VII. PEMUPUKAN
– Pemupukan NPK diberikan dua kali setahun, yaitu awal dan akhir musim hujan.
– Setelah pemupukan sebaiknya disiram.

Jenis dan Dosis Pupuk Makro sesuai table.
Tahun gr/pohon/tahun
Urea SP-36 KCl
1 2 x 25 2 x 25 2 x 20
2 2 x 50 2 x 50 2 x 40
3 2 x 75 2 x 70 2 x 40
4 2 x 100 2 x 90 2 x 40
5 – 10 2 x 150 2 x 130 2 x 60
> 10 2 x 200 2 x 175 2 x 80
Catatan : Jenis dan Dosis pupuk sesuai dengan jenis tanah atau rekomendasi dinas pertaniam setempat

Cara pemupukan dibuat lubang kecil mengelilingi tanaman sejauh ¾ lebar tajuk, pupuk dimasukan dan ditutup tanah.
Akan lebih baik ditambah pupuk organik SUPERNASA dosis 1 botol untuk ± 200 tanaman . 1 botol SUPERNASA diencerkan dalam 2 liter (2000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman setiap pohon atau siram atau kocorkan SUPERNASA 1 sendok makan per 10 liter air setiap 3-6 bulan sekali.
Semprotkan POC NASA 3-4 tutup + HORMONIK 1-2 tutup per tangki setiap 1 bulan sekali

VIII. PEMANGKASAN
Lakukan pemangkasan rutin setelah berakhirnya masa panen (pangkas berat) untuk mengatur bentuk pertumbuhan, mengurangi cabang tunas air (wiwilan), mengurangi penguapan dan bertujuan agar terbentuk bunga, serta perbaikan bagian tanaman yang rusak.
Pemangkasan pada awal atau akhir musim hujan setelah pemupukan

IX. PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT

A. H A M A
1. Bubuk buah kopi (Stephanoderes hampei) serangan di penyimpanan buah maupun saat masih di kebun . Pencegahan dengan PESTONA atau BVR secara bergantian
2. Penggerek cabang coklat dan hitam (Cylobarus morigerus dan Compactus ) menyerang ranting dan cabang. Pencegahan dengan PESTONA.
3. Kutu dompolan (Pseudococcus citri) menyerang kuncup bunga, buah muda, ranting dan daun muda, pencegahan gunakan PESTONA, BVR atau PENTANA.+ AERO 810 secara bergantian

B. PENYAKIT
1. Penyakit karat daun disebabkan oleh Hemileia vastatrix , preventif semprotkan Natural GLIO
2. Penyakit Jamur Upas disebabkan oleh Corticium salmonicolor : Kurangi kelembaban , kerok dan preventif oleskan batang/ranting dengan Natural GLIO + POC NASA
3. Penyakit akar hitam penyebab Rosellina bunodes dan R. arcuata. Ditandai dengan daun kuning, layu, menggantung dan gugur. preventif dengan Natural GLIO
4. Penyakit akar coklat penyebabnya : Fomes lamaoensis atau Phellinus lamaoensis preventif dengan Natural GLIO
5. Penyakit bercak coklat pada daun oleh Cercospora cafeicola Berk et Cooke pencegahan dengan Natural GLIO
6. Penyakit mati ujung pada ranting.Penyebabnya Rhizoctonia .Preventif gunakan Natural GLIO.

Catatan : Jika pengendalian hama dan penyakit dengan pestisida alami belum mengatasi, sebagai alternative terakhir bisa digunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata Pembasah AERO 810 dosis 0,5 tutup botol per tangki

X. P A N E N
Kopi akan berproduksi mulai umur 2,5 tahun jika dirawat dengan baik dan buah telah menunjukkan warna merah yang meliputi sebagian besar tanaman, dan dilakukan bertahap sesuai dengan masa kemasakan buah.

XI. PENGOLAHAN HASIL
Agar dipersiapkan terlebih dahulu tempat penjemuran, pengupasan kulit dan juga penyimpanan hasil panen agar tidak rusak akibat hama pasca panen. Buah panenan harus segera diproses maksimal 20 jam setelah petik untuk mendapatkan hasil yang baik.

Penyebab Kerusakan Kopi Beras :
1. Biji keriput : asal buah masih muda
2. Biji berlubang :kopi terserang bubuk
3. Biji kemerahan : Kurang bersih mencucinya
4. Biji pecah : mesin pengupas kurang sempurna, berasal dari buah yang terserang bubuk, pada saat pengupasan dengan mesin kopi terlalu kering.
5. Biji pecah diikuti oleh perubahan warna: mesin penguap dan pemisah kulit dengan biji kurang sempurna, fermentasi pada pengolahan basah kurang sempurna.
6. Biji belang : pengeringan tidak sempurna, terlalu lama disimpan , suhu penyimpanan terlalu lembab.
7. Biji Pucat : terlalu lama disimpan di tempat lembab
8. Biji berkulit ari : Pengeringan tidak sempurna atau terlalu lama, pada pengeringan buatan suhu awal terlalu rendah.
9. Biji berwarna kelabu hitam : pada pengeringan buatan suhunya terlalu tinggi.
10. Noda-noda cokelat hitam : pada pengeringan buatan, kopi tidak sering diaduk/dibolak-balik.

22.35.00 | |